MENGAPA IMPOR SAMPAH?

 


http://phys.org

Beberapa waktu lalu ramai pemberitaan tentang impor sampah yang mencapai puluhan kontainer. Impor sampah tersebut masuk ke indonesia melalui batam dan surabaya. Sebagian Kontainer tersebut diimpor dari Seattle di Amerika Serikat dengan tujuan ke Surabaya Jawa Timur.

Kontainer – kontainer tersebut seharusnya berisi kertas bekas tetapi setelah dicek oleh petugas ternyata berisi sampah plastik, botol dan popok. Karena isi kontainer tersebut tidak sesuai dengan dokumennya maka kontainer tersebut dikirim kembali ke negara asalnya. Sebelumnya beberapa negara di Asia Tengara seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam juga mengirim kontainer – kontainer sampah impor ke negara asalnya.

Lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah bernama Ecoton telah merilis hasil temuannya tentang pabrik kertas di jawa timur. Berdasarkan hasil temuan tersebut, impor sampah selama Tahun 2018 untuk bahan baku pabrik kertas di jawa timur mengalami meningkatan dibangdingkan tahun 2017. Pada tahun 2018 jumlah sampah impor untuk bahan baku pabrik kertas di jawa timur sebesar 739 ribu ton sedangkan pada tahun 2017 jumlahnya hanya 546 ribu ton. Sebagian besar dari 12 perusahaan yang dipantau Ecoton telah mempersiapkan lahan penampungan untuk mengatisipasi peningkatan impor sampah tersebut. Ecoton juga menemukan bahwa tingkat kontaminasi sampah plastik pada sampah kertas impor mencapai 35 persen.
Pada tahun lalu China telah menutup kran impor sampah. padahal Selama tahun 1988 sampai 2016 china telah menyerap sampah dunia hingga 45,1%. Karena China telah menutup impor sampah, maka berdampak pada negara – negara yang masih membuka pintu impor sampah. Para negara eksportir harus mencari pasar baru atau meningkatkan volume ekspor sampah ke negara – negara yang masih membuka pintu impor sampah, salah satunya ke indonesia. Maka tidak heran bahwa jumlah impor sampah indonesia mengalami peningkatan. Negara – negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan lainya merupakan negara pengdaur ulang sampah. Kemudian sebagian hasil daur ulang sampah tersebut di ekpor ke pasar global. Oleh karena itu sebagian negara – negara ASEAN merupakan sasaran empuk untuk tempat pembuangan sampah bagi negara – negara barat.

Padahal jumlah sampah yang dihasilkan Indonesia selama tahun 2019 ini mencapai 66 – 67 juta ton. Jumlah tersebut cukup besar jika dibandingkan jumlah sampah pertahun yang mencapai 64 juta ton. Dengan jumlah sampah yang begitu banyak, rasanya tidak mungkin jika indonesia masih kekurangan sampah untuk keperluan daur ulang. Sebenarnya indonesia tidak perlu untuk mengimpor sampah tersebut karena jumlah sampah dalam negeri sendiri masih banyak dan belum mampu diolah secara maksimal. Dengan banyaknya impor sampah bisa saja hanya menjadikan indonesia sebagai negara tempat pembuangan sampah bagi negara negara barat seperti amerika serikat. Lalu pada akhirnya negeri kita sendiri yang akan merasakan dampak dari menumpuknya sampah tersebut jika kita tidak dapat mengolahnya.

Menurut direktur eksekutif econton Prigi Arisandi, pemerintah seharusnya menghentikan impor sampah tersebut karena sejak tahun 2015 para peneliti menemukan bahwa indonesia merupakan negara kedua pencemaran laut dunia setelah negara china. Ada beberapa negara yang mengekspor sampahnya ke Jawa Timur, Yaitu Amerika Serikat, Italia, Inggris, Australia, Korea Selatan, Singapura Dan Kanada.

Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah impor sampah ini. Pemerintah seharusnya memperketat regulasi impor sampah. Batasan kouta impor sampah dapat diterapkan indonesia untuk mengantisipasi menjamurnya impor sampah. Seperti di negara – negara ASEAN lainya, mereka telah membatasi masuknya sampah ke negara mereka. Malaysia telah mencabut izin impor sampah 114 perusahaan. Malaysia juga menargetkan pelarangan impor sampah pada tahun 2021. Selain Malaysia, Thailand juga telah mewacanakan pelarangan impor sampah. Hal itu dikarenakan kenaikan drastis impor sampah plastik dari amerika serikat. Pemerintah Indonesia juga harus membuat regulasi tentang pengolahan sampah Sehingga pencemaran sampah dapat dikendalikan.