Ada Apa dengan PEMILU 2019?

 

QUICK COUNTNYA KOK SIANG SIH?

Related image

Hai sobatku kafomik, kemarin tanggal 17 april 2019 kita telah melewati hari yang bersejarah, harinya euforia demokrasi rakyat nusantara. Sepanjang waktu dari hari itu rakyat memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan.Tak hanya itu, kita juga memilih representatif yang duduk di atas kursi legislatif yang ada di masing-masing daerah dari pusat hingga kab/kota. Hal yang pasti kita tunggu, nantikan dan saksikan pada pemilu ini ialah perhitungan cepat atau yang populer dengan sebutan “quick count”. Biasanya quick count muncul dilayar bawah televisi dan pergerakannya bisa kita pantau disetiap detiknya dari pagi hingga kemudian hari. Tapi sekarang kok penghitungan cepat atau quick count ini baru rilis sore hari di pukul 15.00 wib. Ada apa sih, kok tumben kesiangan? Apa jangan-jangan? Stop nanti dulu kita ulas lebih lanjut dibawah ini.

Sebelum kita mengasumsikan dari informasi yang kita lihat, sebaiknya kita menerka lebih jeli lagi sebab musababnya, awal mulanya dahulu. Tidak ada salahnya sih ketika kita berpendapat toh juga udah diatur dalam pasal 28E ayat 3 UUD 45. Lagi-lagi dengan kata tapi, yang kita lihat realnya banyak orang  berasumsi seakan benar secara logika, tidak semuanya..!! Sepakat dengan apa yang dikatakan Friedrich Braga bahwa semua orang bisa berasumsi dengan pintar tapi tidak semua orang sepintar asumsinya. Kita bisa menyorot balik sebagai intropeksi diri.

Nah kita langsung ke pointnya saja, apa sih Quick count itu? Menurut Dian Permata seorang peneliti Founding Fathers House (FFH) dalam konteks pemilu di Indonesia, quick count adalah metode hitung cepat dengan mengambil tempat pemungutan suara (TPS) sebagai sampel. Basis respondennya adalah formulir C1 plano, alias hasil perhitungan suara di TPS yang menjadi sampel. Biasanya dilaksanakan oleh lembaga survei yang telah resmi ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Hal yang masih terngiang dalam pikiran kita pasti soal rilis quick count yang tidak seperti biasanya. Itu dikarenakan Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa publikasi hasil quick qount dapat dilakukan 2 jam setelah penghitungan di wilayah Indonesia bagian barat. Sesuai dengan UUD No. 7 tahun 2017 tentang pemilu. Jika kita balik pada pemilihan presiden tahun 2009 dan 2014, MK masih memperbolehkan hasil quick count dipublikasikan sejak pagi hari dengan melihat kondisi pada waktu itu.

Tentunya sekarang dengan kondisi berbeda, menurut MK jika publikasi dilakukan sebelum penghitungan suara di wilayah Indonesia bagian barat maka hal tersebut akan mempengaruhi pemilih yang belum mencoblos. ”Pengumuman hasil penghitungan cepat demikian, yang karena kemajuan teknologi informasi dapat dengan mudah disiarkan dan diakses di seluruh wilayah Indonesia, berpotensi mempengaruhi pilihan sebagian pemilih yang bisa jadi mengikuti pemungutan suara dengan motivasi psikologis ‘sekedar’ ingin menjadi bagian dari pemenang.” ucap Hakim Enny seperti yang dikutip di kompas.com. Selain alasan tersebut, MK mengkhawatirkan lembaga survei dan media yang menyiarkan quick count berafiliasi dengan pasangan calon tertentu.

Bersambung . . .